top of page
Search

The Friendship Theory

Updated: Dec 14, 2025

Oleh Fikri Haikal Febrian, Published on Medium (April 8, 2020)


Kehidupan sosial selalu memberikan stigma moral yang adiluhung pada perbuatan — perbuatan kemanusiaan yang diberikan secara cuma — cuma. Karena memang, saya menemukan bahwa membantu orang lain itu adiktif. Semua agama dan norma pun pasti memiliki postulat yang serupa. Saya merasa menjadi makhluk yang saleh, mungkin itu yang dirasakan para ksatria perang salib. Seolah tuhan dengan segala kekuatan adikodratinya mengangkat derajat saya. Kendati demikian, belakangan saya selalu menganggap altruisme sebagai rantai ambivalen yang mengekang kehidupan saya. Ia adalah sebuah kutukan dan berkah dalam satu waktu yang sama. Eksistensinya terus menjadi momok di sepanjang karier saya sebagai makhluk sosial.


Orang bilang membantu sesama tanpa pamrih merupakan tindakan yang mulia. Tidak salah memang. In many instances, random acts of kindness can change a person’s life. Terlalu mengawang — awang memang, tapi, pada prinsipnya, itu yang dilakukan seorang pahlawan.

I’m Everyday Heroes”-Max Caulfield (Life is Strange)

Meski begitu, di dalam sebuah proposisi, selalu ada reverse logic yang gagal kita terjemahkan. Selalu ada The other side of the story yang luput dari pandangan, seolah menyembunyikan dirinya sendiri. Selalu ada flip side of the coin yang tidak seberharga sisi yang sudah kita gunakan untuk bertransaksi. Sangat bijak untuk memahami hal — hal seperti ini, dalam segala situasi.


Sebab, dalam memahami kehidupan secara paripurna, opsi kita untuk menilai suatu nomena dan fenomena tidak hanya terdemarkasi oleh hitam atau putih, benar atau salah, dan adjektiva kontradiktif lainnya. Selalu ada variabel lain yang menjadi orientasi dalam merumuskan sebuah penilaian yang objektif. Tidak semuanya buruk, sama halnya tidak semuanya baik. Ada sebuah kebaikan yang terkandung dalam keburukan. Demikian pula sebaliknya. Fakta itu bisa kita temukan dengan mudah dalam berbagai segmentasi kehidupan. Di dalam diri setiap individu, keunikan tersebut hidup dan berkembang dengan caranya masing — masing. Sikap, pola pikir, emosi, bahkan ideologi merupakan cerminan dari keunikan ini, yang biasanya dapat kita identifikasi di setiap individu di sekitar kita. Antara lain adalah teman.


Berbicara tentang “Teman” tentu kohesif dengan hubungan yang kita jalin dengan mereka, pertemanan. Semua orang mungkin memiliki definisinya masing — masing. Sah — sah saja, karena dalam membatasi pemaknaan kata tersebut, setiap individu dapat menggunakan pengalamannya sebagai referensi pendefinisian. Bagaimana dengan saya? Apa yang saya rasakan? Referensi apa yang saya gunakan dalam mendefinisikannya?


Jujur saja, saya tidak tahu pasti. Mungkin hal itu yang berusaha saya temukan dengan memproduksi tulisan ini. Seiring bertambahnya usia, saya semakin cerdas, bijak, dan permisif dalam menegakan objektivitas. Di sisi lain, saya semakin skeptis melihat kehidupan, di antaranya dalam memahami hubungan pertemanan. Makna sederhana yang dulu saya pahami mengenai hubungan sosial yang satu ini semakin mengabur dan terabolisi karena semakin tidak relevan dengan realita. Menurut saya, masyarakat kontemporer cenderung meluaskan makna pertemanan. Padahal bagi saya, pertemanan (baca: pertemanan sejati) terasa sangat spesifik, dinamis, dan misterius. Ia perlahan memudar dan semakin terkesan transaksional. Cinta mungkin sulit dipahami, tapi, bagaimana dengan pertemanan? Apakah ia lebih mudah dipahami dibandingkan cinta? Apakah semua orang sudah benar — benar memahaminya?


Saya tidak bermaksud membingungkan pembaca dengan menghadirkan lebih banyak pertanyaan daripada menjawabnya, sebab ‘jawaban’ bukan produk utama yang saya tawarkan dalam uraian ini. Saya mengajak anda untuk merenung bersama dan mewawas diri. Berdiskusi, apabila memungkinkan.


Manusia merupakan makhluk fana, pertemanan juga demikian. Konon katanya, hanya hubungan antara manusia dengan tuhan yang terproteksi dari kefanaan. Meski begitu, dalam hubungan pertemanan biasanya kita melakukan hal — hal yang di luar batas kewajaran sembari berusaha menafikan kefanaan. Dengan kawan — kawan lama misalnya, kita mempercayakan our deepest darkest secrets yang entah kenapa kita yakin akan mereka jaga hingga ke liang lahat. Lebih jauh lagi, beberapa dari kita membuat unbreakable vow, blood oath dan sejenisnya untuk berteman selamanya.

“I’m with you untill the end of the line, pal” — Bucky Barnes

Bukan saya menganggap sepele ritual — ritual semacam itu, hanya saja, memang terkesan demikian. Banyak dari kita gagal memaknai secara komprehensif tujuan dilakukannya hal — hal tersebut. Harus diingat bahwa pada kenyataannya, tidak ada yang tetap dalam kontinum kehidupan sosial, kecuali mungkin ketidaktetapan itu sendiri. Di beberapa kesempatan, tidak butuh waktu lama bagi ‘rahasia’ berubah kategori menjadi ‘informasi publik’. Sebab bagi sebagian orang, gossip, baik berupa rahasia, aib, dan hal — hal esoteris lainnya merupakan alat bantu untuk mendongkrak strata sosial pribadi mereka. Saya tidak menyalahkan mereka, dalam beberapa kesempatan, gosip memiliki peran penting untuk mendistingsi kawan maupun lawan, bahkan memperkuat solidaritas kawanan (Sapiens oleh Yuval Noah Harari). Janji — janji dan sumpah — sumpah yang kita yakini sepenuh hati pun mengalami pendegradasian makna. Kebanyakan dari mereka menghilang dan menghadiri kehidupan baru dalam kontinum sosial yang berbeda sambil perlahan-lahan melupakan ikrar suci mereka sebagaimana pejabat politik yang bersumpah untuk tidak mengkhianati masyarakatnya, hingga berakhir demikian. Tidak semua seperti itu memang, tapi akuilah bahwa kebanyakan pertemanan memiliki sebuah garis finish. Kecuali pertemanan yang sejati, tentu saja. Jika anda tidak merasa demikian, sungguh anda adalah orang yang beruntung sebab mampu memahami makna perfect friendship bahkan sebelum mengkonsumsi literatur dan penjelasan yang saya sajikan di beberapa paragraf kemudian.


Lantas, kenapa sebuah pertemanan dapat berakhir? Bukankah begitu banyak kisah — kisah baik itu historis maupun fiktif yang menunjukan bahwa pertemanan merupakan ikatan yang maha hebat?


Untuk menghentikan arus pertanyaan yang terus menyeret kita ke sebuah muara berisi kebingungan dan ketidakpastian, saya akan mencoba mengelaborasi hal ini secara preskriptif dengan menghadirkan referensi yang menurut saya paling relevan.


Aristoteles dikenal luas sebagai salah satu yang paling brilian dan produktif di antara sekian banyak Filsuf Barat. Berbagai jenis literatur karya Aristoteles telah membentuk arah peradaban sepanjang sejarah umat manusia, mempengaruhi mulai dari teori politik, ekonomi, astronomi, fisika, hingga nilai — nilai estetika barat. Selama lebih dari 2000 tahun, pemikirannya merupakan yang paling sering dibaca dan dijadikan referensi. Mayoritas di antaranya pun masih sangat relevan hingga saat ini. Meski begitu, pemikirannya tidak melulu dituangkan ke pembahasan yang ‘berat — berat’. Pada beberapa kesempatan, ia juga menulis berbagai hal yang sifatnya fundamental dalam keseharian kita di dalam literaturnya, termasuk bahasan yang saya angkat, pertemanan.


Di dalam Buku “Etika Nikomakea” misalnya, Aristoteles menggambarkan ada tiga jenis hubungan pertemanan yang terbentuk di dalam kondisi yang berbeda, dan kenapa satu diantara ikatan — ikatan tersebut bisa lebih kuat dari yang lainnya.

Selain perihal pertemanan, Etika Nikomakea juga membahas secara komprehensif mengenai pentingnya menerapkan kebaikan, baik dalam tindakan maupun watak yang secara tematis menekankan pada perilaku etis.


Utility and Pleasure

“There are therefore three kinds of friendship, equal in number to the things that are lovable. Now those who love each other for their utility do not love each other for themselves but in virtue of some good which they get from each other. So too with those who love for the sake of pleasure; it is not for their character that men love ready-witted people, but because they find them pleasant.” → Aristoteles, Sengaja engga ditranslate biar relate.

Sederhananya, Utilitas (eng : Utility) adalah tipe pertemanan yang terjalin karena adanya kepentingan di antara dua belah pihak. Sementara, Pleasure (Sejauh yang saya tau tidak ada kosakata B.Indonesia yang benar — benar bisa mewakili ‘Pleasure’ dalam konteks ini) adalah tipe pertemanan yang terjalin atas dasar untuk ‘seneng — seneng doang’ (Selanjutnya saya singkat SSD). Kedua jenis pertemanan tersebut jelas fana. Mereka terbentuk secara insidental, bukan intensional.

Menurut pengamatan Aristoteles, tipe pertemanan ‘seneng — seneng doang’ umum ditemukan di kalangan anak muda. Sementara pertemanan utilitas secara general merupakan hubungan yang hidup di lingkup manusia dewasa dan kalangan professional.


Sebenarnya, Pertemanan Utilitas dan Pertemanan SSD cukup mirip dimana keduanya hanya berlangsung sekejap. Di kehidupan kontemporer, kita bisa melihat bahwa hubungan pertemanan cenderung lahir dari fase — fase komunal yang dilalui bersama. Misalnya, Fauzy dan Budi berteman karena keduanya satu kelas, kemudian mereka membentuk sebuah kelompok pertemanan yang terdiri dari Kusumah, Dani, dan Adi. Mereka berlima, belum tentu mengenal satu sama lain secara personal. Umumnya mayoritas anggota kelompok mengenal anggota lainnya melalui hubungan yang disebut “teman dari teman”. Tentu saja, hubungan semacam ini cenderung memiliki kualitas pertemanan yang buruk. Sebab yang melandasi terbentuknya hubungan tersebut hanyalah emosi sesaat yang mereka rasakan pada situasi tertentu (Misalnya saat nongkrong/hangout bersama). Kendati demikian, biasanya para anggota tidak keberatan dengan hal tersebut mengingat fakta itu lebih baik daripada harus menjalani kehidupan sekolah sendirian. Itulah Pertemanan SSD.


Di sisi lain, Pertemanan Utilitas biasanya terbentuk di antara orang — orang yang lebih matang. Seperti orang dewasa atau orang — orang yang telah menyadari bahwa kehidupan terdiri dari banyak pengorbanan (life consists of many tradeoffs). Pertemanan lebih seperti obral jasa daripada ikatan sakral. Orang — orang ini menerima kenyataan bahwa beberapa hubungan sosial pada hakikatnya memang bersifat transaksional. Mereka menganggap pepatah ‘Habis manis, sepah dibuang’ sebagai sesuatu yang wajar dan kodrati. Misalnya, pasutri muda yang memiliki seorang balita sangat mungkin untuk berteman dengan pasutri muda lainnya dengan tujuan untuk bergantian menjaga balita mereka masing — masing dalam keadaan tertentu. Contoh lain misalnya, saya mengenal seseorang di SMA, dia pun mengenal saya, tapi kami tidak berteman. Di kemudian hari, kami berakhir di satu universitas yang sama, atas dasar utilitas, kami membentuk hubungan pertemanan berlandaskan fakta bahwa kami pernah satu SMA. Segera setelah chapter kehidupan baru tiba, pertemanan semacam ini akan berakhir. Hubungan — hubungan semacam ini hanya akan hidup dalam rentang waktu yang singkat. Setelah tujuan dan kemanfaatanya menghilang, demikian pula hubungan tersebut. Secara teoritis memang agak sulit untuk mendistingsi perbedaan kedua jenis pertemanan di atas. Tapi, secara praktis, keduanya dapat dengan mudah diidentifikasi.


Sebenarnya Aristoteles sendiri tidak benar — benar menganggap kedua hubungan di atas sebagai sesuatu yang buruk. Hanya saja, ia merasa hubungan semacam ini ‘kurang dalam’. Tidak masalah, bahkan terkadang wajib, untuk memiliki hubngan insidental — Tapi tentu saja ada hubungan yang lebih dari itu.

Menurut Aristoteles :

Jadi, hubungan — hubungan di atas hanya terjalin secara insidental; karena seseorang tidak sungguh — sungguh memaknai hubungan tersebut, hubungan tersebut terjalin semata — mata hanya untuk kemanfaatan dan seneng — seneng. Hubungan semacam ini, akan segera berakhir begitu kemanfaatannya hilang; Sebab jika satu pihak tidak lagi memberikan pleasure atau kegunaan, pihak yang lain akan kehilangan ketertarikan dan alasan untuk melanjutkan hubungan.

Usia saya saat ini belum menginjak kepala dua, tapi sebagian besar friendship yang saya jalani memiliki tendensi utilitarianisme yang adekuat. Selama tidak menaruh ekspektasi yang tinggi, menjalani hubungan-hubungan seperti ini tidak sepenuhnya salah. Tapi, bukan berarti semua hubungan pertemanan harus kita jalani dengan prinsip ini. Sebab, bila seumur hidup kita memaknai ‘teman’ hanya sebagai utilitas semata, minimal akan ada dua hal yang terjadi. Pertama, Semua hubungan pertemanan yang kita jalani akan lenyap karena keinginan, kebutuhan, hasrat, dan harapan kita akan terus berubah hingga kita meninggal. Kedua, Kita senantiasa mendambakan sesuatu yang lebih, berupa hubungan yang bermakna, jujur, murni, apa adanya, dan berarti.

Nah, hubungan yang bermakna ini adalah hubungan pertemanan jenis ketiga yang digambarkan oleh Aristoteles sebagai sebuah “Perfect Friendship”.


The Perfect Friendship

“Perfect Friendship adalah hubungan pertemanan antara manusia yang keduanya memiliki standar moral yang baik dalam kebajikan; sebab keduanya mengharapkan yang terbaik satu sama lain, dan mereka sendiri pada hakikatnya adalah pribadi yang baik. Barangsiapa yang mengharapkan kebaikan bagi teman mereka sesungguhnya adalah teman yang sejati; karena mereka melakukan hal ini dengan alasan kodrati dan bukan insidental; Dengan demikian hubungan pertemanan mereka bertahan panjang selama mereka tetap menjadi pribadi yang baik- dan kebaikan adalah hal yang kekal.” ~Aristoteles

Dalam hubungan jenis ini, mereka yang terikat di dalamnya tidak bertujuan memperoleh keuntungan satu sama lain, sebab, kualitas pertemanan yang mereka jalin secara alam bawah sadar berperan sebagai insentif yang mereka terima dari masing-masing pihak. Sederhananya, hubungan istimewa ini tidak dibangun berdasarkan unsur-unsur utilitarian seperti ‘apa yang bisa orang ini lakukan untuk kita’ atau ‘apa untungnya berteman dengan orang ini’, dsb. Melainkan, ia dibangun dari sesuatu yang jauh lebih substansial, yakni karena kita menghargai keberadaan satu sama lain. Perfect Friendship exist simply because you value who they are.

Value seperti apa yang menjadi objek orientasi dan standarisasi Perfect Friendship? Bisa apa saja. Subjektivitas merupakan kemewahan yang dimiliki dalam pertemanan sejati, sebab itu saya menyatakan di muka bahwa pertemanan sangat spesifik, dinamis, dan misterius. Mungkin kita menyukai dedikasi yang dimiliki teman kita dalam mengerjakan sesuatu. Atau, kita menyukai mereka yang impulsif dan reaktif dalam menyelesaikan konflik yang sedang mengeskalasi. Terkadang, kita menyukai mereka yang ahli mendengar keluh kesah daripada memuntahkan saran — saran yang tidak relevan. Banyak hal yang bisa kita hargai, percayai, dan kagumi dalam pribadi seseorang, dan itu adalah jembatan untuk tiba di perfect friendship.


Terlepas dari seberapa intim dan ‘dalam’-nya hubungan jenis ini, ada keunikan yang terkandung di dalamnya, yakni ia memberikan efek yang sama sebagaimana kedua jenis pertemanan lainnya. Perfect Friendship sangatlah menyenangkan dan menguntungkan. Jadi, sangatlah bijak untuk menginvestasikan waktu untuk membentuk perfect friendship. Ketika sejak awal kita melandasi pertemanan dengan rasa hormat dan apresiasi, utilitas dan kebahagiaan merupakan hadiah yang pasti kita peroleh.


Sungguh beruntung bagi siapa saja yang menemukan arti Perfect Friendship dalam kontinum kehidupannya. Sebab tentu saja hubungan semacam ini langka. Aristoteles sendiri berpendapat demikian. Lantas bagaimana hubungan istimewa ini bisa terbentuk? Waktu.


Menurut Aristoteles, agar hubungan semacam ini dapat terbentuk secara paripurna diperlukan waktu dan familiaritas (familiarity). Mereka yang kekurangan empati dan rasa peduli terhadap orang lain jarang berhasil membentuk hubungan seperti ini sebab secara preferensi pertemanan yang cenderung utilitarianism. “Sebagaimana kata pepatah,” kutip Aristoteles. “Manusia belum benar — benar saling mengenal kalau belum mencicipi asam garam kehidupan bersama — sama.” Mereka juga belum bisa sepenuhnya mengakui hubungan pertemanan mereka atau benar — benar berteman hingga masing — masing dari mereka menemukan rasa cinta dan percaya satu sama lain.

Dari apa yang dituliskan Aristoteles, dapat kita pahami bahwa hubungan pertemanan sesungguhnya adalah sesuatu yang sakral. Keberadaannya belum tentu dapat lahir dari sesuatu yang profan seperti berkenalan, saling follow di sosial media, atau melalui interaksi yang insidental.


Tidak ada jalan pintas atau rumus raja untuk mempersingkat pembentukan pertemanan sejati. Kalau kita renungkan, seseorang yang layak disebut dengan teman sejati adalah mereka yang berbagi lintasan perasaan di setiap fase kehidupan kita. Mereka menyumbangkan partisipasi di dalam hidup kita secara kualitatif dan kuantitatif. Mulai dari begadang mengerjakan tugas bersama — sama, berdiskusi mengenai hal — hal sensitif, meminta saran, curhat mengenai kejamnya kehidupan, menertawakan kebodohan masing — masing, mengubur depresi, mencurahkan perhatian dan kepedulian satu sama lain, dsb. adalah proses penting yang dalam perjalanannya mampu mendefinisikan perfect friendship. Apabila mereka tetap di samping kita dalam manis pahit kehidupan, sesungguhnya kita sudah dalam proses menuju pertemanan yang sejati. Hanya dengan waktu kita bisa belajar untuk mengapresiasi keberadaan orang lain apa adanya. Maka, selamat datang di jenjang pertemanan sejati.


Therefore…

Agak misterius sebenarnya bagaimana kita baru benar — benar mengerti apa yang hendak kita sampaikan ketika kita selesai berbicara. Paradigma berfikir yang dimiliki seorang altruis cenderung morat — marit dalam memahami sebuah hubungan pertemanan. Kami agak kesulitan mendistingsi mereka yang datang atas dasar utilitarianisme semata dan mereka yang memahami makna pertemanan. We basically just wanted to help people. Kami tidak begitu peduli feedback seperti apa yang akan kita peroleh. Pemikiran yang salah? Bisa jadi iya, demikian sebaliknya.

Seperti yang saya tulis di muka, lebih bijak untuk menilai tidak hanya hitam dan putihnya. Setiap keputusan dan sikap yang kita pilih, memiliki konsekuensi alamiah secara mikro dan makrokosmos. Pelajaran yang saya terima selama berperan sebagai seorang altruis adalah bantahan terhadap pernyataan “Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai”.


Udah gitu doang pelajaran yang diperoleh? Gitu mah semua orang juga tau.

Terdengar sederhana memang, but it’s actually deep when you live in it. Tidak semua yang kita tanam, bisa kita tuai. Bagaimana bila ada hawar yang menyerang kebun kita? Apa yang akan terjadi bila gulma memenuhi tanaman — tanaman yang siap panen? Semua pengorbanan dan waktu yang telah kita luangkan dengan harapan memperoleh tanaman berkualitas tentu terbuang sia — sia.


Kuncinya jangan berharap terlalu banyak. Buatlah pagar — pagar sosial yang mendemarkasi hal — hal negatif yang hanya menguras waktu dan tenaga. Analisa setiap pribadi yang datang. Kalau kita tidak pernah berani untuk mengeksplorasi hubungan selain yang bersifat utilitarianis dan oportunis, maka kita akan kehilangan momentum untuk memperoleh hubungan yang berarti. Perfect Friendhip akan terwujud dengan menghabiskan waktu bersama, melintangi susah senang bersama, dan belajar menghargai satu sama lain sebagai sesama manusia. Tidak selamanya mudah. Tidak selamanya akan berhasil. Tapi, apabila disinkretisasikan dengan komitmen, kita akan menemukan wajah — wajah mereka yang kita sebut ‘teman sejati’ hingga akhir hayat nanti.


Tibalah pada momentum bagi kita untuk mewawas diri. Berapa banyak orang yang kita kecewakan karena piciknya pemikiran kita akan hakikat pertemanan? Berapa banyak waktu yang telah kita investasikan kepada mereka yang menyamar sebagai makhluk sosial? Berapa kali kita merendahkan diri untuk mereka yang bahkan tidak merendah diri saat meminta uluran tangan kita? Anggaplah tulisan ini menjadi sebuah reminder bagi kita semua untuk bijak dalam segala hal dan segala situasi. Anggaplah tulisan ini sebagai Eulogi bagi mereka para altruis yang terkadang menjadi korban kontra mutualisme.


Sumber : Etika Nikomakea (Aristoteles), Emotional Intelligence (Daniel Goleman),

 
 
 

Recent Posts

See All
Telunjuk Tak Kasat Mata

Oleh Fikri Haikal Febrian, Published on Medium (April 20, 2020) Mengingat kegiatan ekonomi dunia sedikit — demi sedikit terhenti akibat sebuah virus. Sepertinya, kita harus memikirkan sebuah sistem ek

 
 
 

Comments


© 2025 by Fikri Haikal Febrian.
Powered and secured by Wix

Contact

+6285933738625

Write

Follow

  • Medium
  • Whatsapp
  • LinkedIn
  • Instagram
bottom of page