top of page
Search

Telunjuk Tak Kasat Mata

Oleh Fikri Haikal Febrian, Published on Medium (April 20, 2020)


Mengingat kegiatan ekonomi dunia sedikit — demi sedikit terhenti akibat sebuah virus. Sepertinya, kita harus memikirkan sebuah sistem ekonomi baru yang dapat menggantikan sistem yang sekarang eksis, kapitalisme. Akui saja, dalam beberapa dekade terakhir aktivitas ekonomi dunia telah dibangun berdasarkan basis ideologi ini.

Merubah sistem semasif ini tentu sangat kompleks. Knowing the fact that it is a big deal, Apakah mungkin untuk melakukan hal ini? Kalau kita melihat kembali ke belakang, sebenarnya kita pernah melakukan hal semacam ini. Artinya, mungkin saja.

Sebelum kita tiba pada era perdagangan bebas yang dipenuhi saudagar kaya, kebanyakan hingar bingar kekayaan terbaring di telapak tangan para penguasa feodal yang kita kenal dengan nama Raja atau Ratu. Keadaan ini kita kenal dengan nama Feodalisme, dimana mereka yang bukan berasal dari latar belakang bangsawan atau berdarah ningrat memiliki potensi yang sangat minim untuk meraih kesejahteraan. Well, sebenarnya tergantung karakter penguasa itu sendiri. Feodalisme tentu merupakan alat yang sangat tendensius terhadap tindakan supresif dalam konteks hak asasi.


Perlahan, kita mulai menemukan dan memaknai apa yang kita sebut kebebasan. Pertempuran melawan sistem tirani dan otoriter yang berujung pada lahirnya kelas baru.


The Merchant Class. Pedagang, Saudagar, atau apalah.


Mendedikasikan kehidupan untuk mencari nilai tukar dan kemakmuran ke sepenjuru dunia. Menolak memberikan kebebasan yang ia miliki pada individu lain. Berniaga untuk kaya, memanipulasi produksi untuk kekuatan.

Pedagang kapitalis hidup makmur dan maju. Dari kelas ini, kita menyadari bahwa kebebasan, kekuatan, dan kekayaan bisa dicapai dengan cara menggenggam pasar. Tidak perlu menjadi raja atau ratu atau penguasa tunggal yang otoriter.

Manipulasi. Komersialisasi. Transaksi.


Untuk mengendalikan pasar kuncinya adalah mengontrol supply and demand, setidaknya itu yang tertulis di beberapa literatur yang saya baca (Nonton juga sih di “The Wolf of Wall Street”). Artinya, siapa saja yang mengendalikan aliran persediaan dan permintaan akan mewarisi kekuatan ekonomi yang besar. Dalam konteks sumber daya pokok, kalimat sebelumnya memiliki dampak derivatif yang mengerikan.

Siapa saja yang mengendalikan sumber daya pokok untuk memproduksi akan menentukan arah pasar. Dengan kata lain, menjadi alat kontrol produksi. Itulah singkatnya yang sekarang sedang terjadi, we live in this system.


Feodalisme perlahan menghilang, meskipun beberapa karakternya masih eksis dan tercermin dalam figur tertentu. Para pencari kebebasan yang rendah hati, sekarang sudah engga rendah — rendah amat hatinya akibat dorongan pasar. Nomina ‘pedagang’ telah berkembang hingga menghasilkan nomenklatur baru yang terdengar lebih modern dan profitable, kita kenal dengan istilah ‘pebisnis’, yang nampaknya bermakna sangat luas. Sebab pada dasarnya di kehidupan kontemporer, semua orang (baca:yang memiliki modal)melakukan kegiatan bisnis. Tidak terbatas pada mereka yang berkecimpung dalam sektor ekonomi/keuangan seperti perusahaan, bank, manajer, CEO, tapi juga posisi publik seperti politisi.


Meskipun saya tidak mencantumkan waktu kapan tepatnya peralihan — peralihan ini terjadi, dari paragraf — paragraf di atas kita mengetahui secara temporal perubahan sangat mungkin terjadi. Kekuatan yang tadinya dimiliki Raja sekarang jatuh ke tangan para Pedagang.


Perdagangan bebas menang telak. Kebebasan telah tercapai. Semua orang memiliki hak yang legally tidak bisa diintervensi oleh siapapun. No man is above others, terms “equality” yang dulu terdengar bagai dongeng dan utopia belaka saat ini telah kita jalani dalam kehidupan sehari — hari. Perdagangan bebas ditentukan oleh entitas yang saya sebut telunjuk tak kasat mata (Interpretasi dari Invisible hand-nya Adam Smith), sebab siapa saja, selama memiliki kemampuan untuk mendominasi akan memiliki kekuatan yang cukup untuk mendikte pasar global. Kendati demikian, seperti yang saya sebut di tulisan sebelumnya, selalu ada The Other Side of The Story.


Apakah keadilan sudah tercapai? Jika sistem ini merupakan arti dari keadilan, berapa harga yang sudah kita bayar untuk memperolehnya?


Belum lagi, bila kembali kita telusuri, fakta bahwa siapa saja yang berhasil menggenggam alat produksi punya kekuatan untuk mengontrol arah pasar dan perdagangan bebas terdengar janggal. Bukankah artinya ia memiliki kekuatan ‘istimewa’ yang tidak dimiliki orang lain? Bukankah itu berarti membantah pernyataan no man is above others? Apakah ini berarti ‘kebebasan’ belum berhasil kita capai?

Bagaimana dengan lingkungan? Sebagai seseorang yang cukup concern terhadap isu dan etika lingkungan selama satu tahun terakhir, saya menemukan tidak banyak yang menorehkan hal — hal terkait lingkungan di daftar prioritas mereka. Padahal, tidak jarang lingkungan menjadi korban dari upaya — upaya manusia untuk mencapai what they so-called “Freedom”. Sekedar mengingatkan, engga jadi soal tercapai atau tidaknya kebebasan yang kita dambakan kalau bumi yang menjadi penyangga keberadaan kita hancur lebur.


Mereka yang pro feodalisme (Kita asumsikan saja ada), mungkin akan menghimbau masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan masalah — masalah seperti ini. “Ah, engga usah takut. Kan, engga semua raja jahat — jahat. Sudah sewajarnya ada orang tertentu yang terlahir lebih tinggi derajatnya daripada orang lain. Lagian, kalau hidup di bawah naungan raja yang puritan, kita akan disediakan makanan, tempat tinggal, bahkan keamanan.”


Di sisi lain, mereka yang pro kapitalisme mungkin akan menyuarakan argumentasinya. “Kok anti banget sama perusahaan? Kan di luar sana banyak perusahaan yang baik dan berperikemanusiaan. Sudah kodratnya kehidupan manusia dikendalikan oleh pasar, sebab dalam perkembangannya toh kebutuhan kita berbeda — beda. Lagian, kalau kalian bekerja keras dan banyak berusaha, ujung — ujungnya bakal banyak duit juga.”

Saya tidak bermaksud memulai perang ideologi atau sejenisnya, apalagi dalam situasi pandemik yang memerlukan keparipurnaan solidaritas seperti sekarang. Hal yang hendak saya katakan adalah kenyataan bahwa kedua pernyataan di atas adalah opini. Bukan fakta. Yang pertama dipelopori oleh Nebukadnezar. Sementara yang kedua lahir dari benak Adam Smith, The one who wrote the bible of capitalism.

Jadi, kita menyadari bahwa kedua pemikiran di atas baik itu kapitalisme maupun feodalisme merupakan suatu konstruksi sosial. Daripada fakta, saya kira karakternya lebih menyerupai opini.


Benar bahwa yang pertama memiliki kebaikan daripada yang kedua, demikian pula sebaliknya. Benar bahwa keduanya banyak berkontribusi dalam kontinum peradaban manusia. Tapi, seperti halnya feodalisme, ternyata kapitalisme juga memiliki batasan — batasan tertentu. Kapitalisme, baik secara langsung maupun tidak, telah berpartisipasi terhadap kerusakan lingkungan yang bisa saja berujung pada kepunahan umat manusia. Ia juga sangat rentan hingga satu virus saja bisa berujung pada krisis ekonomi global.


Kendati demikian, manusia telah beradaptasi sebelumnya, dan akan melakukannya lagi (Harusnya sih ya). Fakta bahwa sistem ekonomi kita saat ini dibangun berdasarkan konstruksi sosial, menyadarkan kita bahwa sangat mungkin untuk mengeskalasi cara hidup kita semua. Untuk melanjutkan perjuangan kita mencapai kebebasan dan kemerdekaan. Untuk mengubah ritme ekonomi kita.

Saat ini, sistem ekonomi yang kita gunakan memaksa umat manusia untuk memilih antara kepentingan ekonomi atau urusan hidup mati spesies. Bagi saya, pilihan ini tidak bisa dilakukan dengan cara berkompromi dan sangat tidak alamiah.

Masih tetap mau seperti ini, atau berubah? Kapan kiranya perubahan akan terjadi? Kita lihat nanti. Bersama — sama.

 
 
 

Recent Posts

See All
The Friendship Theory

Oleh Fikri Haikal Febrian, Published on Medium (April 8, 2020) Kehidupan sosial selalu memberikan stigma moral yang adiluhung pada perbuatan — perbuatan kemanusiaan yang diberikan secara cuma — cuma.

 
 
 

Comments


© 2025 by Fikri Haikal Febrian.
Powered and secured by Wix

Contact

+6285933738625

Write

Follow

  • Medium
  • Whatsapp
  • LinkedIn
  • Instagram
bottom of page